jump to navigation

Belajar sejarah, jangan sampai jadi pesimis terhadap masa sekarang May 12, 2013

Posted by zainalarif in indonesia, insight, jalan jalan.
Tags: , , ,
trackback

Alhamdulillah hari ini, ngaleut perdana saya di Komunitasf Aleut! Komunitas apresiasi sejarah dan musik cenah, katanya. Dan memang setelah jadi follower agak lama, mereka tetap konsisten menjalankan kegiatannya. Pegiat Aleut, begitu komunitas ini menyebut aktivis-aktivisnya.

Kita belajar sejarah adalah untuk mengambil hikmah dari kejadian atau peninggalan masa lalu dan menerapkannya di masa sekarang sehingga kesalahan masa lalu tidak terjadi kembali.

Aleut kali ini bertemakan toko buku. Komunitas menjelajahi toko-toko buku dan percetakan masa lampau baik yang masih ada ataupun yang tinggal bangunannya saja. Ternyata metode penyampaian materinya lebih ke arah diskusi dua arah. Yang ingin menambahkan silakan, karena sama2 belajar. Berkali- kali ditekankan bahwa di Aleut tidak ada senioritas. Jangan ada yang merasa lebih pinter. Maaf saya udah ngeledekin org yang salah jawab🙂

Banyak diutarakan apa kelebihan arsitektur ataupun keadaan pada masa Belanda. Arcade trotoar yang berkanopi dan lebar yang luas untuk memanjaian para pejalan kaki. Dan masih banyak lagi pelajaran yang didiskusikan dari masa lalu.

Tetapi ada yang mengganjal di hati saya. Dari sedemikian banyak hal-hal yang baik yang ada di masa lalu, malah jadi timbul kesan dari sebagian pegiat yang, apa ya enaknya, mengagung-agungkan (berlebihan, tapi belum nemu padanan katanya) masa lalu. Terlihat sisi pesimis mereka terhadap masa sekarang. Bandung, misalnya, dibanding-bandingkan dengan yang ada sekarang sepertinya lebih baik jaman Belanda. Yang sekarang gini-gini-gini. Jalanan bolong, tata kota semrawut, bangunan bersejarah tidak diperhatikan.

Memang hanya sebagian saja yang seperti itu. Hal ini juga yang sempat dibahas pada sesi akhir ngaleut, pembahasan (ini yang saya suka, sekalian belajar berpendapat). Betul, jangan yerlalu mengagungkan masa lalu, karena nyatanya kita dijajah. Pada masa itu, fasilitas tersebut bukan untuk kaum pribumi, tetapi untuk kaum Belanda. Ya kalo dibandingin dengan itu, tentu enak sekarang doong yaa😀

Nyambung lagi ke tujuan kita belajar sejarah, maksud yang kedua agar bisa menerapkannya di masa sekarang memang perlu ditekankan kepada diri masing-masing. Apa yang bisa kita lakukan untuk berubah menjadi lebih baik sesuai dengan role dan kapasitas yang kita miliki. Kalo mahasiswa biologi, seperti yang tadi saya dengar, apakah pohon pohon yang ditrotoar jalan Braga memang cocok untuk disitu. Kalo tidak, diberi tahu ke pihak yang terkait, bahwa alasannya gini gini gini. Dan itulah contoh, masing masing orang dapat berkontribusi sekecil apapun sesuai dengan role mereka, karena hanya mereka lah yang bisa melakukannya. Percayalah, everybody is unique. Kontribusi inilah yang membedakan antara orang yang pesimis dan optimis. Mereka sama-sama melihat kekurangan pada apa yang ada sekarang. Tapi orang optimis akan melihat kekurangan ini sebagai celah perbaikan yang solusinya sebenarnya sudah ada pada sejarah masa lalu, dan diwujudkan dengan kontribusi.

Secara overall, salut untuk  Komunitas Aleut yang telah mewadahi pegiat-pegiat yang hebat ini. Saya percaya Aleut ini akan melahirkan orang-orang yang kritis dan yang paling penting adalah peduli.

Mari kita menyalakan sebuah lilin daripada terus menerus mengutuk kegelapan. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang.

Terima kasih.
Bravo Aleut!

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: