jump to navigation

Topeng monyet pun terhimpit zaman March 12, 2013

Posted by zainalarif in foto hari ini, indonesia, insight.
Tags: , ,
trackback

image

Topeng atau doger monyet merupakan kesenian khas indonesia yang sudah mulai terabaikan. Silakan dipikir, kapan anda terakhir melihat doger monyet? Ya, sekarang doger monyet sering dijadikan lelucon di acara-acara komedi. Kalo anda pernah menonton doger monyet aslinya pasti ngerri lelucon tersebut. Tapi gimana anak-anak baru yang belum prnah lihat doger monyet aslinya?

Dulu pertunjukan doger monyet dijajakan secara berkeliling ke permukiman-permukiman warga. Biasanya pertunjukan dibawakan oleh 3-4 orang. Seorang pawang, dan yang lainnya bermain musik sederhana: gamelan dan tabuh-tabuhan. Monyetnya pun minimal 2 ekor. Musik terus dimainkan saat mereka berkeliling untuk menarik perhatian anak-anak. Biasanya anak-anak mengikuti iring-iringan pertunjukan sampai ke daerah agak lapang tempat pertunjukan diadakan. Peragaan yang ditunjukan monyet bermacam-macam: merias wajah, memakai lipstik, bercermin, menari menggunakan topeng, wsolat, pakai payung, hand stand, angkat besi, dll.

Sepertinya ada beberapa hal yang membuat doger monyet ini jarang ditemukan lagi. Pertama, anak-anak sekarang jarang bermain bersama tetangga di lingkungan sekitar rumah, iya ngga sih? Kalo anak-anak ngga ada siapa lagi yang nonton, kan objek utamanya anak-anak. Anak-anak sekarang lebih senang diajak ke mall oleh orang tuanya, atau bermain game online saja di depan komputer. Kedua, tidak ada lagi tempat lapang di permukiman penduduk. Inilah yang menyebabkan kesenian ini terdesak ke pinggiran-pinggiran kota. Perumahan sepi tiada penghuni saat siang hari, perumahan bentuknya cluster yang selalu dijaga satpam agar tidak ada yang masuk selain penghuni, permukiman padat penduduk tidak punya lapangan bermain.

Jadilah sekarang doger monyet terdegradasi seperti ini. Personil pertunjukan berkurang menjadi dua kemudian menjadi satu orang saja, merangkap pawang dan penabuh alat musik. Tempat dan waktu pertunjukan pun berubah. Di bandung doger monyet ada yang dilakukan di lampu merah, menghibur orang yang sedang macet. Rasanya jadi bukan hiburan lagi, tapi jadi seperti mengemis. Itu juga mungkin penyebab doger menghilang, profesi ini tidak menjanjikan kesejahteraan.

Tetapi, dibalik keadaan yang serba menghinpit mereka, ada saja kreativitas yang mereka perlihatkan. Saya lihat di lampu merah itu permainan monyetnya pun selalu ada yang baru (sebagai pengamat perdogeran, hahaha), monyetnya naik motor-motoran lah, pakai helm, main hp, ngerokok, dan yang paling membuat takjub adalah monyetnya bermain egrang. Ya egrang, tingginya pun ngga kira-kira sampai 1.5 meter!

Jadi apa yang sebaiknya dilakukan? Dari tadi ngomongin kekurangan mulu, hahaha. Saran saya sih, karena anak-anak juga sudah tidak lagi bermain di sekitar rumah, pertunjukan harus berpindah dari sekitar permukiman. Pindahlah ke mall, bukan dinluar mall, di dalamnya. Pindahlah ke waterboom. Jadilah bagian dari hiburan di hotel-hotel. Ya doger monyet perlu manajemen yang baik, yang bisa mengelola potensi mereka, berkomunikasi dan bernegosiasi dengan pengelola tempat hiburan. Biasanya, hal ini terkendala pendidikan sepertinya. Emang-emang (tukang-tukang, mas-mas, abang-abang) doger monyet ini lulusan SMA kah? SMP kah? Atau malah mgga sekolah? Tuh kan betapa pentingnya pendidikan. Mereka jadi tidak bisa berdiri sendiri, menjadi pengusaha topeng monyet, hahaha..

Peluang usaha juga tuh, manajer topeng monyet… Hahaha….

ZA

Comments»

1. johanesjonaz - March 13, 2013

Personally, saya sangat tidak setuju dengan show topeng monyet model sekarang. Tidak menghibur sama sekali bahkan menjurus ke penyiksaan hewan. Kalau dulu Sarinah hanya pergi ke pasar, sekarang Sarinah naik motor dengan kecepatan tinggi. Caranya? dengan menarik leher monyet dengan tali tampar sekencang-kencangnya.

zainalarif - March 13, 2013

^^Betul2, kalo penganiayaannya saya juga tidak setuju. Harus profesional kali ya, cara mendidik dan mengatraksikan monyetnya. Macem kebun2 binatang ato taman safari bisa nih mengedukasi para entreupreneur doger monyet ini.

Tapi dilihat dari kacamata budaya, aseek, kesenian asli indoneaia ini harus dilestarikan. Sayang kan kalo sampai hilang ;D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: